Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Agustus 2013

Dentang Debu

Berlarilah

Pasakkan tulangmu pada tanah,
pada siti molek berbalut gaun hijau

Dentangkan debu selantang gendhing jawi
ro lu ro lu mo lu ro ji 

Nyanyikan nafasmu semerdu derap matahari

Dadamu terbakar semangat Ilahi

Lepas bebaskan panas

Lari! Lari! Lari!

Jangan berhenti jika finish belum kau jamahi

Kibas lepas

Latih letihmu

Nyeri tak boleh jadi garis finish

Kalau yang kiri sakit,
Pinjam punya Brahmantyo

Putih yang tak kenal patah.

Kalau yang kanan yang sakit,
Pinjam punya Liem Dhany

Merah yang pantang pasrah.

Lari! Lari! Lari!

Kalau finish belum menjemput, jangan berhenti!

Teriakkan kakimu

Sembilan belas bersamamu

Rabu, 10 Juli 2013

Pekat yang Nikmat

Dalam dingin dan nyaring jam dinding,
Di hadapan segelas kopi yang air panasnya menantang air mataku

Aku bertanya :
Adakah kopi ini lebih hitam daripada kedukaanku?

Tapi tak setetes pun darinya mampu menjawabku,

Sebab barangkali mereka tak pernah mengenal arti hidup

Mereka hanya dituangkan ke dalam stoples kaca,

Menunggu giliran mereka untuk pergi,

Masuk ke dalam cangkir-cangkir cantik,

Kemudian melebur dan tenggelam dalam euforia kenikmatan yang bahkan tidak sempat mereka dengar ..

Dan sekalipun mereka adalah luak yang asli,
Mereka tidak akan pernah mampu menandingi pahitnya rasa kehilangan..

Barangkali mereka beruntung, sebab mereka tidak pernah mengenal keluarga, cinta, dan orangtua.. 
Sehingga tak perlulah bagi mereka untuk merasakan duka yang mendalam seperti yang sedang kurasakan..

Tak perlulah bagi mereka untuk menyendiri dalam balutan malam yang seakan siap menikamku kapanpun ia mau, seperti malam ini.

Angin malam pun seakan tertawa melihatku, dalam keterpurukan dan kepedihanku..
Seorang malang yang masih terbayang batu nisan ibu..
Seorang yang terlalu cepat meninggalkannya, ketika beliau musti hidup sebatangkara setelah ayah meninggal.

Dan aku?

Aku hanya bocah dengan segudang mimpi yang mengejar prestasiku jauh dari rumah, dan pada akhirnya berdialog dengan segelas kopi..

Gelas yang kacanya seolah cermin bagi diriku..

Pekatnya melukiskan kedukaan yang barangkali lebih gelap daripada langit malam ini ..

Dan butir-butirnya yang mengendap dibawah adalah aku ;

Yang masih saja tenggelam dalam kesedihanku..

Dan tunggu ..

Apakah itu?

Putih-putih semarak yang perlahan melunturkan kepekatan dalam gelas kopiku

“Kopinya lebih enak kalau dikasih susu. Biar ngga terlalu pahit.”

Beberapa sendok susu dari gelas teman asramaku sekarang sudah bercengkrama dengan butir-butir hitam di bawah sana.

Astaga! Bagaimana bisa aku mengurung diriku dalam lembah kesedihan ini - sedangkan ayah dan ibuku telah mengirimkan pasukan malaikatnya untuk menuntunku kembali berjalan dalam rute masa depanku?

Kawan yang menghiburku, yang pada akhirnya membentuk atmosfer yang lebih menenangkan. 

Seperti gelas kopiku, yang perlahan pekatnya menghilang dan berubah menjadi kecokelatan.

Sayembara Bukit Cinta


(Dimuat di Kompas, Minggu, 30 Juni 2013)

          Pada suatu pagi yang cerah Raja Kelinci berkeliling ke seluruh penjuru hutan untuk mengumumkan adanya sebuah sayembara. Sayembara ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat langka. Bagi mereka yang mampu memenangkan sayembara ini, mereka akan diangkat menjadi anggota kerajaan. Mereka akan mendapatkan kehidupan yang layak dan berhak untuk ikut tinggal di dalam istana. Mendengar adanya sayembara ini para rakyat Kerajaan Rimba tampak amat antusias. Mereka semua berkumpul di dekat mimbar tempat Raja Kelinci berbicara.
            Sayembara kali ini adalah Sayembara Bukit Cinta. Baginda Raja Kelinci meminta para pesertanya untuk mengambil buah apel berbentuk hati yang terdapat di atas Bukit Cinta. Tidak sembarang orang bisa memenangkan sayembara ini. Baginda Raja bilang hanya mereka yang hidup dalam kesederhanaan dan penuh cinta kasih saja yang dapat menuntaskan sayembara ini.
            Begitu banyak tenaga yang harus dikerahkan selama mengikuti sayembara Bukit Cinta. Beberapa dari peserta yang merasa tidak sanggup, akhirnya memutuskan untuk pulang. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti sayembara akhirnya hanya tersisa tiga ksatria saja. Mereka adalah Jery si jerapah, Kuri si kura-kura, dan Rosi si rusa. Ketiganya adalah rakyat kerajaan rimba yang hidup dalam kesederhanaan.
            Suatu malam di tengah perlombaan,  mereka bertiga memilih untuk tidur bersama di sebuah gubug di tengah hutan. Tidak banyak percakapan yang muncul diantara mereka. Barangkali mereka semua sudah terlalu lelah. Jadi, mereka lebih memilih untuk tidur.
            Pagi-pagi sekali Kuri si kura-kura sudah bangun. Karena dia tidak dapat berjalan dengan cepat, maka dia memilih untuk berjalan lebih awal. Untuk itulah dia bangun pagi-pagi buta. Sementara itu, Rosi rusa dan Jefry jerapah masih tertidur lelap.
            Beberapa jam kemudian, Rosi rusa mulai terbangun. Setelah mengetahui bahwa Kuri si kura-kura telah berangkat, maka Rosi rusa segera menyusul. Saat Rosi rusa kembali melanjutkan perjalanan menuju Bukit Cinta rupanya Jefry jerapah juga ikut terbangun. Tetapi Jefry jerapah berkata dalam hatinya, “Ahh, nanti saja. Toh kakiku panjang, tentu aku dapat berlari cepat dan menyusul mereka. Leherku yang panjang juga akan memudahkanku untuk memetik buah-buah apel hati itu.” Kemudian Jefry jerapah kembali melanjutkan tidurnya.
            Sementara Jefry jerapah sedang melanjutkan mimpi indahnya, di tempat lain Rosi si rusa telah berhasil menyusul Kuri si kura-kura. Kuri si kura-kura merasa pasrah ketika Rosi rusa mendahului langkahnya. Ia sadar bahwa berjalan lambat adalah kelemahannya, tetapi meskipun demikian Kuri si kura-kura tetap tidak putus asa. Kuri kura-kura tidak lantas menyerah. Ia terus melanjutkan perjalanannya.
Berada di posisi terdepan diantara kedua lawannya ternyata bukanlah hal yang mudah bagi Rosi si rusa. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan Bapak Beruang yang sedang membersihkan lumpur jalan. Bapak Beruang nampak amat kelelahan sebab ia mengerjakan pekerjaan itu sendirian. Akhirnya Rosi rusa memutuskan untuk ikut membantu Bapak Beruang membersihkan lumpur jalan. “Jika tidak dibersihkan, jalannya akan menjadi sangat licin dan sulit untuk dilewati.” kata Bapak Beruang pada Rosi rusa.
Setelah jalan kembali bersih dari lumpur, Rosi rusa kembali melanjutkan perjalanan. Ketika melewati sebuah jembatan, Rosi rusa melihat Nenek Kancil yang jatuh terpeleset di tepi sungai. Melihat hal tersebut hati Rosi rusa menjadi sangat iba. Ia kemudian memutuskan untuk turun ke tepi sungai dan membantu Nenek Kancil untuk bangkit berdiri. “Apakah nenek baik-baik saja?” tanya Rosi rusa pada Nenek Kancil. “Sepertinya kaki nenek terkilir. Apakah kamu bisa mengantar nenek pulang ke rumah?” kata Nenek Kancil. Rosi rusa mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia mengantar dan menggandeng Nenek Kancil sampai ke rumahnya. Setelah itu, barulah Rosi rusa kembali melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu Jefry jerapah sudah mulai bangun dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Jefry jerapah segera berlari dengan cepat menuju Bukit Cinta. Sedangkan Kuri si kura-kura telah melewati jembatan yang terletak tak jauh dari Bukit Cinta. Saat itu Kuri si kura-kura tidak tahu bahwa ia kembali berada di posisi terdepan karena Rosi rusa sedang membantu Nenek Kancil.
Di tengah perjalanan, Kuri si kura-kura bertemu dengan Ibu Burung. Saat itu Ibu Burung hendak mencari makan untuk bayi-bayinya. “Permisi tuan kura-kura, apakah anda bisa membantu saya menjaga bayi-bayi saya sebentar?” tanya Ibu Burung pada Kuri si kura-kura. “Maaf ibu, saya sedang buru-buru.” jawab Kuri si kura-kura sambil terus berjalan melewati Ibu burung dan bayi-bayinya. “Sebentar saja tuan, biar nanti Bapak Burung yang mengantar tuan sampai ke tujuan.” kata Ibu Burung lagi, tetapi Kuri si kura-kura tidak mau mendengarkan. Kuri si kura-kura terus berjalan.
Beberapa saat kemudian, Kuri si kura-kura telah tiba di puncak Bukit Cinta. Tetapi di sana ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Rosi rusa. Mengetahui bahwa ia yang pertama kali sampai di Bukit Cinta, Kuri si kura-kura merasa sangat gembira. Kemudian ia mulai mencoba untuk meraih buah-buah apel hati itu. Buah-buah apel hati itu terletak di atas pohon yang tinggi, sehingga Kuri si kura-kura merasa kesulitan untuk mengambilnya.
Ketika Kuri si kura-kura sedang berusaha mengambil buah apel hati, tiba-tiba datang Jefry si jerapah. Sesampainya Jefry jerapah di pucak Bukit Cinta, Jefry jerapah segera memetik buah apel hati itu. Karena memiliki leher yang panjang, maka sangatlah mudah bagi Jefry jerapah untuk memetik buah-buah apel hati itu. “Jefry, tolong petikkan satu buah apel itu untukku.” pinta Kuri si kura-kura. “Enak saja. Kalau kamu mau, kamu harus memetiknya sendiri.” jawab Jefry jerapah dengan angkuh. “Kalau begitu, tolong angkat aku dan bantu aku untuk memetiknya.” Kata Kuri kura-kura pada Jefry jerapah. “Tidak.” jawab Jefry jerapah. Kemudian Jefry jerapah segera bergegas pergi menuju ke istana tempat Raja Kelinci. “Aku yang akan menang.” batin Jefry jerapah senang.
Beberapa menit kemudian Rosi rusa tiba di puncak Bukit Cinta. Ia melihat Kuri si kura-kura sedang berusaha untuk memetik buah apel hati itu. “Kuri, apakah kamu butuh bantuan?” tanya Rosi rusa pada Kuri si kura-kura. “Tentu Rosi, tolong angkat aku dan bantu aku memetik buah apel hati ini.” kata Kuri si kura-kura. Rosi rusa kemudian mengangkat Kuri dan membantunya memetik buah apel hati itu. Setelah Kuri kura-kura berhasil memetik buah apel hatinya, barulah Rosi si rusa memetik buah apel hati untuk ia bawa kepada Raja Kelinci. Tak hanya itu, Rosi rusa juga menawarkan tumpangan bagi Kuri si kura-kura. “Kuri, tentu kamu lelah. Apakah kamu mau naik ke punggungku dan pergi bersama ke istana?” tawar Rosi rusa. “Terimakasih Rosi, kamu baik sekali.” jawab Kuri si kura-kura. Mereka berdua pun kembali menuju istana Raja Kelinci bersama-sama.
Sementara itu Raja Kelinci, seluruh anggota istana dan seluruh rakyat sudah berkumpul di halaman istana. Jefry jerapah juga telah menunggu kedatangan kedua lawan tandingnya. Ia sudah tidak sabar untuk dilantik dihadapan seluruh rakyat. Segera setelah Rosi rusa dan Kuri kura-kura tiba di istana, ketiga ksatria tersebut dipersilahkan untuk berdiri di atas panggung. Akhirnya Raja Kelinci memutuskan bahwa yang layak diangkat menjadi anggota kerajaan adalah Rosi si rusa. Gelar tersebut diberikan atas kesederhanaan dan cinta kasih yang besar yang dimiliki oleh Rosi rusa. Rosi rusa tidak pernah mementingkan dirinya sendiri, ia selalu berusaha untuk membantu orang lain. Maka dialah yang memenangkan Sayembara Bukit Cinta.

Rabu, 05 Juni 2013

5cm Di Depan Mata


"Mimpi-mimpi kamu,
cita-cita kamu,
keyakinan kamu,
apa yang kamu mau kejar, 
biarkan ia menggantung, 
mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. 
Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu.
Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari,
kamu lihat setiap hari,
dan percaya bahwa KAMU BISA.
 
Apa pun hambatannya, 
bilang sama diri kamu sendiri, 
kalo kamu percaya sama keinginan itu 
dan kamu nggak bisa menyerah. 
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh,
bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat,
apapun itu, 
segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri..

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. 
 
Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas,
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,
serta mulut yang akan selalu berdoa.."

[5cm]
Donny Dhirgantoro

Minggu, 07 April 2013

Percaya itu Indah

 Kadangkala, hatimu terlalu keruh untuk membuat mulutmu mampu berbicara,
dan saat itulah telingamu memilihkan nada yang tepat untuk didengarkan.

Ada satu lagu yang pernah benar-benar mengena buat aku, bahkan mungkin tetap menginspirasi sampai hari ini.
Seingat aku, pertama kali tau lagu ini adalah waktu aku masih kelas X.
Ingat banget waktu itu, si Bela yang nyanyiin di unit MG.
Waktu itu kayaknya belum banyak yang tau lagu ini, search di google juga dikit banget result nya.

Lagu ini menceritakan seseorang yang begitu mendambakan sesuatu. Apapun itu, mimpi, cita-cita, harapan dan cinta. Ia belajar untuk selalu sabar dan percaya. Begitu yakin bahwa percaya menciptakan keindahan. Lagu ini menggambarkan betapa rapuhnya kita tanpa campur tangan Tuhan.


PERCAYA ITU INDAH



Tuhan ajar kami, untuk percaya,
Saat kami, ada dalam gelombang bimbang.
Ajar kami tuk percaya, juga saat kami hanyut,
Dalam rasa takut kehilangan.

Oh Tuhan ajar kami, tuk tetap percaya,
Juga saat, kami lemah dan tak berdaya.
Ketika cinta kami tersamar rasa cemburu,
Ragu sakit dan kecewa.

Sebab mencinta tanpa percaya,
Laksana berjalan tanpa tentu arah.
Buat cinta kami tumbuh karna percaya,
Karena percaya itu indah.

Tuhan ajar kami, untuk mencinta,
Ketika mencinta kami terluka.
Tuhan ajar kami, tuk tetap bisa mencinta,
Saat kami tlah habis tenaga.

Oh Tuhan ajar kami, tuk tetap bisa mencinta,
Saat kami ditolak dan ditinggalkan.
Ketika cinta kami, yang telah kami tawarkan,
Terasa sia-sia.

Sebab mencinta tanpa percaya,
Laksana berjalan tanpa tentu arah.
Buat cinta kami tumbuh karna percaya,
Karena percaya itu indah.



Seseorang yang punya hutang janji untuk menyanyikan lagu ini, malah mengingatkan aku tentang lagu indah ini. Barangkali ia mau membayar janjinya?

Minggu, 25 November 2012

Tiga Hal Untuk Mimpi Baru

Aku tak pernah membayangkan bagaimana seorang gadis harus terus bersedih dalam mimpi-mimpi yang sama yang seakan membelenggunya.
Dimana pada saat itu, tidak ada yang dapat menariknya keluar dari dimensi yang mengurungnya.
Satu-satunya makhluk yang mampu melakukannya, adalah dirinya sendiri.

Dan aku sebagai gadis itu, sedang belajar untuk membantu dirinya.

"Orang-orang berkata: jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, maka ia akan memahami semua orang. Tapi aku berkata: jika ada yang mencintai orang lain, maka ia akan dapat mempelajari sesuatu untuk dirinya sendiri." ~Kahlil Gibran

Beberapa malam yang berlalu itu, benar-benar memuakkan.
Dimana setiap kamu bermimpi, kamu masih menemui wajah-wajah itu.
Wajah-wajah yang kamu rindukan, yang dalam mimpi : akhirnya membuat jenuhmu makin pekat
Dimana pada akhirnya kamu merasa terpojokkan : tak ada makhluk baru untuk kamu rindukan
Dan pada latar-latar itu : tak ada tempat baru dimana kamu berpijak dan tertawa
Semua karena segala sesuatu dan rutinitas yang beralur dalam rotasi yang sama. 
Tak ada yang baru. Seolah tak istimewa.
"Setiap hari, sebenarnya kita sedang mengukir sejarah untuk diri kita sendiri." ~VRM

Dan sekarang aku tau:
Ketika dunia tidak tertarik untuk menyentuhmu, saat itu kamu harus tertarik untuk menyentuh dunia.

Aku mulai bangun dari mimpi-mimpi itu. Membantu gadis itu: 
mengisi kotak-kotak putih diantara hitam yang mengelilinginya dengan huruf-huruf balok;
merangkai beberapa aksara sederhana yang semoga mampu membuat anak-anak terlelap;
dan memperkenalkan makhluk rumput yang menghijaukan suasana.


Tiga hal : Memperbarui Mimpi Diri.




Minggu, 28 Oktober 2012

Arsitek Kehidupan

Ada saat dimana kamu akan mengerti,
betapa buku-buku ilmu yang dulu kamu simpan itu tiba-tiba bisa menjadi sangat berarti dan tak ternilai harganya..

Pada saat itu, kamu akan tahu bahwa waktumu sangat berharga,
melebihi uang dan harta manapun yang kamu punya..

dan sekalipun kamu tidak bisa berbicara pada waktu,
sesungguhnya kamu punya banyak kesempatan untuk mendengarkan waktu berbicara..

Perputaran jarum jamnya akan membawamu teraduk-aduk dalam berbagai pilihan kehidupan,
tapi haruslah kau ingat,
bahwa untuk setiap pilihanmu, akan dimenangkan oleh rencana Nya..


Hari-hari dan kepenatan yang kualami sekarang, membawa ingatanku ke sebuah kota yang terkenal dengan ongis nade nya.. Sebuah daerah, dimana orang-orangnya suka membaca dari belakang, huruf-huruf dari kata yang mereka pergunakan..

Dua ribu sebelas
Saat itu aku sedang menjalani hari-hari pertamaku di kota Malang, Jawa Timur. Aku ingat sekali saat itu aku masih antusias dengan dunia arsitektur. Dan dengan kegiatan OPP SMA PL Van Lith, tempatku bersekolah, akhirnya aku dihantarkan ke sebuah kantor kontraktor.

Yang ingin aku ceritakan disini, bukan tentang hari-hari ku mengenal arsitektur bersama om insinyur. Ada hal lain yang malah membekas dalam benakku.

Saat itu, adalah pagi yang cerah di rumah Om Agus, seorang dosen Elektro di Politeknik Negeri Malang. Pagi itu, seperti biasanya, beberapa gelas teh hangat telah di siapkan untuk kami (aku, ketiga temanku, dan keluarga itu).

Aku dan temanku Dhoni duduk di teras belakang bersama dengan Om Agus, dan obrolan ringan kami mulai mengalir.

"Grace, dulu Om juga pengennya jadi arsitek lhoo." katanya "Tapi waktu nyoba ke UGM, Om ngga lolos. Waktu itu UGM masih tergolong 'terjangkau'."

"Terus ngga nyoba ke perguruan tinggi swasta, om?" tanyaku

"Waktu itu zaman Atma Jaya baru dibangun, masih mahal sekali harganya. Kebetulan ekonomi keluarga tergolong sederhana." Jawabnya.

Begitu obrolan singkat ku dengan Om Agus tentang, mimpi masa mudanya sebagai arsitek.



Hari-hari masa OPP ku hampir berakhir. Di hari terakhir itu, kami semua dikumpulkan di sebuah tempat yang aku juga lupa tepatnya dimana.

Di sana kemudian Om Agus berbicara di salah satu sessi.. Beliau menceritakan bagaimana suka dukanya untuk dapat mencapai kehidupan 'mapan' nya sekarang.

Bagaimana beliau akhirnya memilih untuk berpindah haluan dari minat di teknik arsitektur ke teknik elektro.

"Setelah lulus dari IKIP, saya menjadi dosen di Politeknik Negeri Malang, yang saat itu bernama IKIP Malang." Lanjutnya.



"Pada dasarnya saya ingin sesuatu yang 'seimbang' antara otak kiri dan otak kanan. Saya suka seni, dan saya suka sesuatu yang berhubungan dengan teknik. Jadi, akhirnya saya mengambil teknik elektro."

Segala suka duka yang dialami Om Agus juga diceritakan, termasuk bagaimana beliau bekerja keras agar dapat membelikan sekaleng susu untuk anak pertamanya (saat itu)

Peluang kesuksesan berikutnya muncul pada saat beliau menjadi dosen. Salah satu anak didiknya mempunyai sebuah ide untuk menciptakan 'mesin wartel', sayangnya gagal. Jadi akhirnya Om Agus dan rekannya melanjutkan pekerjaan itu hingga akhirnya menjadi suatu karya yang sangat berguna dan bernilai jual.

Setelah selesai menceritakan pengalamannya, Om Agus dan beberapa orang yang lain menatap ke arahku, seolah-olah ingin memberikan kesempatan bagiku untuk berkomentar. Sebab memang saat itu, akulah satu-satunya peserta OPP dengan profesi arsitek.

dan mengalirlah kata-kata berikut dari mulutku ..

"Mungkin Om Agus pada akhirnya ngga menjadi seorang arsitek seperti yang Om Agus cita-citakan, tapi setidaknya Om Agus telah berhasil menjadi seorang arsitek kehidupan bagi Om Agus sendiri, dan itu adalah hal yang sangat luar biasa."

Aku tidak mengerti bagaimana aku bisa mengatakan kalimat itu,

Aku juga tidak tau bagaimana pada akhirnya kata-kata itu seolah ingin berbicara lagi padaku :

"Adakah kamu mampu menjadi seorang arsitek kehidupan?"

Sekian, Salam hangat :)

Sabtu, 01 September 2012

Revisi Rencana dari Tuhan


Aku berdoa, dan Tuhan mendengarkan..
Jika aku melupakannya, Ia tidak keberatan jika aku datang kembali
Untuk berkeluh kesah pada Nya ..
Dia ini sahabat yang tak banyak bicara,
Tapi banyak mendengar ..
Dia ini sahabat yang setia,
Tapi juga sulit untuk diterka ..

Ingat dengan salah satu post ku beberapa waktu yang lalu? kalau belum, silahkan baca yah :

Tuhan selalu hadir lewat malaikat-malaikat kecil di sekitarku, termasuk saat itu.. Salah satunya, Leocadia Prima Puspitasari. Si cantik yang satu ini sering kali bisa mengubah cara pikirku. Setelah membaca post ku, dia mengirimkan sms yang bunyinya seperti ini :

"Tuliskan rencana kita dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusnya pada Allah, izinkan Dia menghapus bagianbagian yang salah dan menggantikan dengan rencana-Nya yang indah dalam hidup kita."

Aku percaya bahwa itu yang terjadi.
Tuhan itu sungguh amat baik, dan dalam nama Nya segala sesuatu akan menjadi baik adanya ..

Beberapa bulan yang lalu, bisa disebut juga tahun, aku mengungkapkan ketakutan yang aku rasakan. Aku memintaNya agar mendampingiku, agar aku mampu membuat pilihan yang tepat.  Agar aku memilih fakultas dan jurusan yang tepat saat aku memasuki dunia perkuliahan nanti. Tapi Tuhan ingin agar aku menemukannya dengan caraku sendiri terlebih dahulu :’)

Lalu kisah sedih di bulan Juli itu terjadi ..

Aku jadi ingat doa yang ditunjukkan Sekargalih RenggowatiRakayantias padaku:

 Sator: Bapa.  
Arepo: Tempat perlindungan.  
Tenet: Memelihara. 
Opera: Mempersembahkan sepenuh hati. 
Rotas: Nasib / Perputaran Hidup

Doa ini mempunyai makna ganda, yakni :
a. Dari pihak Tuhan, bermakna: "Bapa tempat perlindunganku, yang memelihara hidupku dengan segenap hati-Nya"
b. Dari pihak manusia, bermakna: "Aku mempersembahkan seluruh hidupku dengan sepenuh hatiku kepada Bapa yang menjadi tempat perlindunganku"

Doa ini adalah doa yang tak kunjung putus, karena doa ini dapat dibaca dari segala penjuru dengan makna yang sama (baca dari kanan ke kiri; atas ke bawah; kiri ke kanan; bawah ke atas).
Doa tersebut melambangkan bahwa Tuhan tak berhenti melindungi kita. Dibaca dari mana saja, akan terbaca hal yang sama. :D

Sekarang, diawal bulan September ini, Tuhan ingin aku tersenyum lega :) Ini saatnya aku untuk mendapatkan ‘revisi rencanaku’ .. Aku mendapatkannya: Tuhan ingin aku untuk mengenal profesi cita-citaku dengan lebih matang dan mendalam.. Jadi dia mengirimku ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur :) Ini cara Tuhan untuk membimbingku agar aku melawan ketakutan itu..  Cepat atau lambat, aku akan tau kemana aku harus melangkah di gerbang masa depan itu :)

Sekarang giliranmu, jangan lupa menulis rencana kalian yah ..
Salam Hangat :)