Minggu, 03 November 2013

Cambuk


Kamu, selamat datang!
Iya. Kamu, lelah.

Kamu adalah lelah yang sama,
yang aku nantikan sejak tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu.
Lelah yang begitu dahsyatnya aku tunggu,
dengan ratapan pada Hyang Kuasa,
dengan derasnya buih permohonan.
dengan dua hilir sungai yang berhulu pada pelupuk mata.

Kamu tidak mengerti
Kamu tidak paham tentang bagaimana merindunya aku;
seorang gadis yang harus menunggu pergantian hari bersama hujan
untuk bisa menikmati sesuatu yang kamu keluhkan sebagai sebuah letih

Keringat yang produktif, rentangan raga yang menggores karya.
Lelah yang membuat badanmu terasa sehat,
sepusing apa pun cenut kepala, dan sepanas apa pun suhu badan yang meletup
Lelah yang sedemikian membuatku merasa begitu hidup

Kamu tidak mengerti
Kamu tidak paham tentang bagaimana tahun menjadi cambuk
seorang gadis yang selalu ingin terjaga lebih lama
karena kemuakannya pada mimpi yang sudah menjamahinya lebih dari cukup

Tiga ratus enam puluh lima hariku telah menjadi cambuk,
menjadi batangan korek api yang mengganjal kantuk
menjadikan buku setebal ribuan halaman sebagai bantalan empuk,
menjadikan pelangi berani melengkung ke atas, demi menahan suntuk

Cambuk ini,
menerpakan dentum semangat setiap kamu datang, lelah.
Jadi aku bahagia saja,
sederhana.

Jumat, 25 Oktober 2013

Philein

Selamat malam Philein, aku tidak bisa tidur.

Philein.
Aku tidak tau kamu dimana. Emm, setidaknya aku sendiri tidak bisa melihatmu.
Setidaknya, saat ini.
Philein, Philein.
Saat aku tidak melihatmu, aku malah menemukanmu pada pertanyaan yang paling nyata.
Kenapa kamu menampakkan diri di hadapan dua orang yang begitu berbeda?
Kenapa kamu terlihat begitu angkuh Philein?
Kamu membuat mereka semua percaya bahwa kamu bisa mempersatukan mereka.

Ahh. Jangan berpura-pura tidak mengerti, Philein.
Kadang kamu menyusahkan mereka, lho.
Kamu membuat mereka ragu.
Apa benar kamu bisa mempersatukan mereka?

Kamu membuat seorang tuan tampan berlutut meratap ketika ditinggalkan oleh puannya.
Selisih kedewasaan. Hahh.
Apa yang kamu lakukan Philein?
Puan itu melangkah tegar, tak menengok sedikit pun. Tapi air matanya mengalir.
Deras sekali, Philein. Kamu tau itu. Kamu pasti melihatnya.
Tapi kenapa kamu diam saja Philein?
Kasian kan mereka.
Jangan AATA, Philein. Jangan.

Ada lagi orang berhati satu yang tatapannya kau pasangkan dengan seorang berhati dua.
Dan ingatkah Philein, apa yang kau lakukan?
Kamu tidak membuat mereka bersatu, Philein.
Kamu malah membuat mereka bertiga.
Bertiga, Philein. Bertiga.
Jahat sekali.
Selang berapa lama lagi, kamu membuat mereka kembali pergi sebagai : satu, satu, satu.
Satu itu tunggal Philein, sedangkan bersatu itu jamak.
Kamu harus bisa bedakan!


Philein.
Bisa tidak kamu berlaku sedikit adil?
Jangan pandang bulu Philein.
Kamu tidak berbulu.
Kamu ini merah, dan simetris.
Tapi aku baru jumpa ini; ternyata simetris tak selamanya seimbang?
Adillah sedikit, Philein.

Kamu bilang yang berbeda bisa kau persatukan?
Kalau begitu tolong ciptakan tanah lapang, Philein.
Supaya tasbih dan rosario bisa didaraskan bersama dengan kebebasan.
Lihat mereka Philein.
Mereka sangat suka Sabtu sore.
Saat dimana puan pulang Ekaristi dan tuannya menjemput seusai Maghrib.

Ayolah Philein, aku tau kamu bisa lebih bijak dari ini semua.

Setidaknya aku tau Philein, kamu pernah menyatukan hitam dan putih dalam merah.
Satu darah, Philein. Hebat sekali kamu.
Aku berterimakasih, kamu melakukan yang satu ini dengan baik.
Sebab jika tidak;
siapakah aku? 

Rabu, 16 Oktober 2013

Lilin-lilin Bersua

Jika sepuluh menit dapat merangkum satu tahun perjalanan hidup seseorang,
Maka tiga puluh menit ini adalah milikmu.
Kamu dan nyala apimu;
Terang dan hangat yang menerjang setiap terpaan angin dingin dan gelapnya malam.
Lelehan peluhmu,
tlah jadi rajutan perjuangan panjang yang kau retas tanpa batas.
Menghadapkanmu pada spektrum spektrum yang menuntunmu untuk menjamah rana;
Entah senyuman manis, entah kepalan tangan;
yang menantimu berdiri sebagai abdi bangsa;
punggawa keuangan negara.

Kini coba tengoklah sejenak.
Topangan kaki tempatmu berpijak ini,
sudah nyaris suntuk dan cukup renta
untuk bersua dengan air mata dan letihmu.
Lelehan ragamu sudah nyaris mendekati horizontal;
Tepat di malam ini, di delapan belas yang merekah dalam bulan Maria.

Lihatlah kami, kakak
Lilin lilin baru yang masih terlalu bersih.
Yang halus, yang mulus, yang baru keluar dari dalam kardus.
Yang utuh dan seolah kokoh,
Namun ditantang ragu untuk membawa terang.
Jangankan menyala kakak;
tentang cara tepat untuk dapat berpijak pun kami masih entah

Lihatlah kami, kakak.
Batangan-batangan putih yang bersua denganmu di malam ini,
di bawah cantik kerlip gemilang bintang,
yang membangunkan memori sekawan minggu yang lalu.
Gedung J307.
Saat lambaian tangan dan senyum manja
kita ciptakan bersama;
Apakah tak kau tangkap radar cemas dan ketakutan pada rona wajah kami?
Bagaimanakah kami harus membalas ucapan
"Selamat datang" dari bibir kalian,
dengan sebuah bisikan "Selamat jalan?"

Jika benar aku ini kakak;
Jika boleh aku bersusastra
dan jika mampu sepuluh menit mengibaratkan satu tahun perjuangan hidup seseorang.
Maka tiga puluh menit ke depan adalah milik kalian.
Pada tiga detik emas yang tersisa ini,
perkenankanlah aku menyalurkan nyala api Nya pada kalian.
Nyala api dan bisikan firman yang kalian kenal semenjak setetes air membelai dahi.

Bulir biluran pilu yang Ia tunjukkanlah,
yang akan kuberitahukan kepadamu;
Janganlah imanmu goyah.
Sebab Kristus sang batu penjuru telah menjadikan kerikil, debu dan rerumputan
sebagai awak-awak yang membentengi langkah-langkahmu.
Tak kan terantuk kaki kalian pada tanah.
Lelehan peluhmu akan jadi tonggak kebenaran,
Tumpukan keringat dan air matamu akan menjadi pijakan bagi ribuan orang.
Dari mulutmu akan terucap perkataan-perkataan yang benar.
Dan dari pundakmu disandarkan harapan-harapan orang nanar.

Detak detik ini,
Tuhan mempersatukan kita
Agar dapat kita berdiri dan berpijak bersama atas nama iman.
Biarlah angin, hujan dan malam menunjukkan
Bagaimana dingin dapat dikalahkan dengan kehangatan
dan bagaimana terang dapat mengalahkan kegelapan.

Untuk itu, tegapkanlah badanmu.
Pasanglah segala perisai Allah dan melangkahlah
dengan lengan kasih yang mampu merangkul semua senyuman.

Tentang lambaian tangan;
bukankah rotasi kita masih sama?


(Makrab KMK STAN, 18 Oktober 2013)

Minggu, 06 Oktober 2013

Karta, Kata dan Kita

Karta. Jogja sudah jadi Jaya. Tugu yang menjamah langit sudah dilukir dengan Monas. Dengan sedikit air mata di pelupuk jendela bis Trans yang memimikri dirinya dari hijau menjadi orange, aku terjaga di sini. Di sebuah petak dengan enam buah pundi-pundi yang siap aku tata sebagai sebuah pondasi baru untuk mulai menjajaki tangga-tangga asa. Putih dan hitam yang melekat, tak kan ku lebur menjadi abu. Tidak. Aku sudah melangkah dengan vantofel hitam yang dibeli untuk jarang dipakai, dan aku tidak akan berbalik. Tidak.

Menurutmu untuk apa aku harus menengok ke belakang; sementara aku tau bahwa kamu-kamu semua setia berjalan bersama di kedua sisiku, dan tangan kita masih sama-sama memainkan tembang-tembang klasik yang mengharmoni.

Aku, kamu dan kita harus sama-sama tau, bahwa aku, kamu dan kita harus pergi dengan langkah yang berbeda untuk menuju ke satu arah yang sama. Untuk sebuah mimpi besar yang diagung-agungkan oleh para pewaris peradaban.

Sekalipun jingga yang kita lihat bukan lagi jingga yang sama yang menyapa saat kita berjalan bersama menuju gereja. Sekalipun senja yang kita lihat bukan lagi senja yang sama yang melukiskan silouet pepohonan pinus dari lapangan basket. Sekalipun kini pagiku telah menjadi malammu, dan sekalipun lelapku kamu sebut terjaga; matahari kita masih sama. Masih matahari yang menantang kita untuk mengobarkan api Van Lith dimana pun kita ditebar.

Fotosintesa mengayuh kita bertumbuh dewasa. Kita tidak lagi melingkar dengan lengan-lengan yang merapat, dengan kaki-kaki yang saling bersentuhan. Kini kita bergandengan melingkar dengan lengan-lengan yang terbuka yang merengkuh ribuan orang lainnya untuk saling memberikan pundak mereka dan kaki-kaki kita mengalunkan langkah yang lebih lebar untuk dapat menjamahi dunia yang perlu digugah dari mimpi.

Hujan, angin, dan awan yang berarak di atas kita boleh berbeda, tapi sekali lagi: Matahari kita akan terus sama.

Sabtu, 14 September 2013

Surat dari Tuhan

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi

dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan:

"Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."



Sungguh, Dialah yang akan melepaskan Grace dari jerat penangkap burung,

dari penyakit sampar yang busuk.

Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi Grace,

di bawah sayap-Nya Grace akan berlindung.

kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.



Grace tak usah takut terhadap kedahsyatan malam,

terhadap panah yang terbang di waktu siang,

terhadap penyakit sampar yang berjalan  di dalam gelap,

terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.

Walau seribu orang rebah di sisi Grace,

dan sepuluh ribu di sebelah kanan Grace,

tetapi itu tidak akan menimpa Grace.

Grace hanya menontonnya dengan mata Grace sendiri

dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.

Sebab Tuhan ialah tempat perlindungan Grace,

Yang Mahatinggi telah Grace buat tempat perteduhan Grace,

malapetaka tidak akan menimpa Grace,

dan tulah tidak akan mendekat pada kemah Grace.

Sebab malaikat-malaikat Nya akan diperintahkan-Nya kepada Grace

untuk menjaga Grace di segala jalan Grace.

Mereka akan menatang Grace di atas tangannya,

supaya kaki Grace jangan terantuk kepada batu.

Singa dan ular tedung akan Grace langkahi,

Grace akan menginjak anak singa dan ular naga.



Sungguh, hati Grace melekat kepada-Ku,

maka Aku akan meluputkan Grace,

Aku akan membentengi Grace,

sebab Grace mengenal nama-Ku.

Bila Grace berseru kepada-Ku,

Aku akan menjawab,

Aku akan menyertai Grace dalam kesesakan,

Aku akan meluputkan Grace dan memuliakan Grace.

Dengan panjang umur akan Ku kenyangkan Grace,

dan akan Kuperlihatkan kepada Grace keselamatan dari pada-Ku.
 (Mazmur 91:1-16)



Akhirnya, hendaklah Grace kuat di dalam Tuhan,
di dalam kekuatan kuasa-Nya.
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, 

supaya Grace dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

karena perjuangan Grace bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah,

melawan pengusasa-penguasa,

melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,

melawan roh-roh jahat di udara.

Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah,

supaya Grace dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu

dan tetap berdiri, sesudah Grace menyelesaikan segala sesuatu.

Jadi berdirilah tegap,

berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

kaki Grace berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,

sebab dengan perisai itu Grace akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

dalam segala doa dan permohonan.

Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doa Grace itu

dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

juga untuk Grace,
supaya kepada Grace, jika Grace membuka mulut Grace

dikaruniakan perkataan yang benar,

agar dengan keberanian Grace memberitakan rahasia Injil,

yang Grace layani sebagai utusan yang dipenjarakan.

Berdoalah supaya dengan keberanian Grace menyatakannya,

sebagaimana seharusnya Grace berbicara.
(Efesus 6:10-20)



Kita tahu sekarang,

bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

untuk mendatangkan kebaikan bagi Grace yang mengasihi Dia,

yaitu bagi Grace yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
(Roma 8:28)



Saudara-saudara, keinginan hati Grace dan doa Grace kepada Tuhan

ialah supaya mereka diselamatkan.
(Roma 10:1)

Sebab, barangsiapa berseru kepada nama Tuhan,

akan diselamatkan.
(Roma 10:13)

Jadi, iman timbul dari pendengaran,

dan pendengaran oleh firman Kristus.
(Roma 10:17)



Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hati Grace dengan sungguh-sungguh,

bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum
yang telah diperintahkan kepada Grace oleh hamba-Ku Musa;

janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,

supaya Grace beruntung,

ke mana pun Grace pergi.

Janganlah Grace lupa memperkatakan kitab Taurat ini,

tetapi renungkanlah itu siang dan malam,

supaya Grace bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya,

sebab dengan demikian perjalanan Grace akan berhasil

dan Grace akan beruntung.
(Yosua 1:7-8)
Grace berseru kepada Allah Israel, katanya:

"Kiranya Engkau memberkati Grace berlimpah-limpah

dan memperluas daerah Grace,

dan kiranya tanganMu menyertai Grace,

dan melindungi Grace dari pada malapetaka,

sehingga kesakitan tidak menimpa Grace!"

dan Allah mengabulkan permintaan Grace itu.
(1 Tawarikh 4:10)



Dan apa saja yang Grace minta dalam doa dengan penuh kepercayaan,

Grace akan menerimanya.
(Matius 21:22)




Rabu, 21 Agustus 2013

Dentang Debu

Berlarilah

Pasakkan tulangmu pada tanah,
pada siti molek berbalut gaun hijau

Dentangkan debu selantang gendhing jawi
ro lu ro lu mo lu ro ji 

Nyanyikan nafasmu semerdu derap matahari

Dadamu terbakar semangat Ilahi

Lepas bebaskan panas

Lari! Lari! Lari!

Jangan berhenti jika finish belum kau jamahi

Kibas lepas

Latih letihmu

Nyeri tak boleh jadi garis finish

Kalau yang kiri sakit,
Pinjam punya Brahmantyo

Putih yang tak kenal patah.

Kalau yang kanan yang sakit,
Pinjam punya Liem Dhany

Merah yang pantang pasrah.

Lari! Lari! Lari!

Kalau finish belum menjemput, jangan berhenti!

Teriakkan kakimu

Sembilan belas bersamamu

Jumat, 16 Agustus 2013

Proklamasi Diri

Selamat datang kembali!
Pastikan kamu datang bersama kemerdekaan di gandengan tanganmu.

Hari ini adalah hari yang baik.
Bersamaan dengan Dirgahayu 68 Republik Indonesia,
aku ingin memproklamasikan kemerdekaanku.

2013.
Mereka bilang angka 13 adalah angka sial.
Tapi aku, Theresia Grace Jayanti, hari ini dengan tegas akan menyangkalnya.
Tidak ada suatu kesialan yang datang dari sebuah angka.
Untung dan malangnya manusia datang dari manusia itu sendiri.
Tidak tidak. Bukan dari Tuhan, melainkan dari manusia.
Dari pikiran dan sugesti alam yang diciptakan oleh manusia.
Dari sempitnya ruang yang ia miliki untuk bersyukur.

Hari ini aku menyatakan diri bahwa AKU TELAH MERDEKA!

Dengan bangga, hari ini aku menulis,
dan membiarkan kalian semua membaca tulisan ini.
Sebuah keyakinan, harapan dan syukur:
AKU TELAH MENANG!
Aku memenangkan diriku atas kegagalan yang pernah aku alami.
Aku berhasil menggali nilai-nilai besar dari setahun perkuliahan di bangku rumah.

Aku berdoa dan Tuhan mendengarkan.
Sebuah bisikan berkata kepadaku dengan lantang,
"Memohonlah sesuatu yang pantas untuk kamu permohonkan. Memohonlah sesuatu yang dapat kamu pertanggung jawabkan."
Aku memohon, dan Tuhan mengabulkan.
Aku diterima di sebuah institusi perguruan tinggi.
dan sebentar lagi aku akan melangkahkan kakiku ke pintu gerbang masa depan itu.

Bagiku ini adalah sebuah hadiah yang luar biasa.
Rasa syukurku meluap-luap dan nyaris membludak.
Tuhan membayar setiap air mata dan busa mulut ketika aku berdoa.
Tunggu tunggu.
Yang barusan agak sedikit berlebihan.
Aku mau memberitahumu satu hal:
Jangan pernah ngoyo dalam berdoa dan memohon.
Jangan memaksa Tuhan.
Beri Dia kelonggaran,
Seperti Dia memberimu rongga untuk bernafas.
Seperti Dia memberi kepercayaan pada jantungmu untuk berdetak,
percayalah pada Nya.

Ini yang terjadi padaku.
Tuhan memberiku sekian banyak pilihan,
aku memilih tiga yang menurutku terbaik, dan menyerahkan ketiganya pada Tuhan.
Dari ketiga pilihan yang aku berikan pada Nya,
Tuhan memberi aku satu yang menurut Nya terbaik.

Tapi ini bukan satu-satunya hadiah yang aku terima atas penantianku,
atas kemenanganku, juga atas kemerdekaanku,
masih ada lagi.

Hadiah yang Tuhan berikan tepat disaat hatiku patah.
Menulis.
Sahabat terbaik yang mengajakku untuk terbuka.
Aku menelanjangi diriku lewat jari jemari yang menari di atas keyboard.
Dan aku berhasil.
Tulisanku dimuat di sebuah harian surat kabar.
Hadiah ini adalah sebuah motivasi besar yang mengingatkan aku
bahwa aku masih hidup, dan aku layak untuk menang.
Hari hariku kembali dipenuhi dengan naskah-naskah soal,
dan diwarnai dengan lukisan-lukisan frasa di layar laptop.
Semangatku berkobar dan kepercayaanku menyala-nyala.
Begitulah seterusnya sampai aku menang.

Mereka bilang, "Jatuh itu biasa, yang luar biasa adalah ketika kamu dapat berdiri lagi."
Mungkin mereka benar.
Bisa jadi.
Aku berdiri lagi, dan aku merasa luar biasa.
Ya. Aku telah menang.
Aku tidak tenggelam dalam keterpurukanku.
Meski perutku harus keram, meski lututku kedinginan, aku terus berenang.
Dan kamu bisa lihat sekarang, AKU MENANG!

Kemenangan yang aku lontarkan ini bukan semata-mata mengenai hal penerimaan oleh institusi-institusi tertentu,
melainkan kemenangan atas penerimaan oleh diriku sendiri.

Soekarno pernah berkata, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
Menurutku Soekarno itu benar, tapi bagiku perjuangan yang tersulit adalah perjuangan melawan diri sendiri.
Melawan egoisme diri, melawan kemalasan, melawan rasa takut, melawan kepedihan, melawan kegagalan dan melawan musuh-musuh ganas lainnya.

Jadi sekali lagi, aku lantangkan:
AKU TELAH MENANG!
AKU MERDEKA!
dan aku bangga bisa menceritakannya disini dengan rasa syukur dan kerendahan hati.

Rabu, 07 Agustus 2013

Sopir. Biar Ku Tebak

Biar ku tebak.
Saat ini mungkin kamu sedang menikmati aktivitasmu.
Rutinitas tahunan yang mungkin sangat kamu nantikan.
Ya. Bisa jadi!

Mungkin kamu sedang menghabiskan waktumu sebagai seorang sopir.
Setidaknya kamu selalu menyebut dirimu demikian, kan?

Menghantarkan rahimmu pergi berbelanja.
Membiarkan wanita-wanita yang kamu cintai memilih barang,
sementara kamu berdiri di depan AC supermarket.
Selalu di situ.
Kamu tak mau beranjak.
Jadi kalau sewaktu-waktu mereka datang, mereka akan dengan mudah menemukanmu.
Berdiri di satu titik, kamu bilang kamu bosan.
Tapi aku yakin, sebenarnya tidak.
Sebab aku tau.
Jauh di dalam hatimu, kamu sangat rindu berdiri di situ.
Bukan karena dinginnya suhu yang membekukan kakimu,
tapi karena hangatnya kebersamaan yang selalu kamu nantikan.
Betul begitu bukan?
Ehem. Ini tebakanku. Tapi bisa jadi, benar.
Bisa jadi memang begitu.

Setidak tidaknya jika tebakanku yang ini salah,
aku masih bisa menebak hal yang lain.

Setidak tidaknya, kalau aku jadi sopir sepertimu, aku pasti bahagia.
Sebab, aku adalah sopir yang bisa menikmati perburuan barang mereka.
Wanita-wanita cantik itu pasti dengan rela hati membiarkanmu menikmati hasil belanja mereka, kan?
Bukan. Bukan lipstik, dress, heels, dan semacamnya.
Tapi kamu pasti tau maksudku kan..
Kulkas.
Aku tidak tau kenapa, tapi rasa rasanya kamu tidak pernah jauh-jauh dari alat pendingin.
Mungkin supaya banyak orang terus memanggilmu "Mister Cool?"
Mungkin. Mungkin.
Setidaknya yang ku tau, kamu tidak mencari dinginnya.
Kamu menantikan kehangatan.
Bercengkerama dengan orang-orang kesayanganmu.
Memindahkan isi kulkas ke dalam perutmu.
Lalu nanti, ketika waktumu disana hampir berakhir,
kamu akan melakukan dua hal:
Satu, kamu akan bersikap sedikit melankolis.
Dua, kamu akan membanggakan perutmu yang melebar ke segala penjuru.
Dan mungkin juga, secara tidak sengaja, kamu akan mengkombinasikan keduanya hanya dalam sebuah pesan singkat.

Jadi bagaimana?
Apa tebakanku masih salah?
Biar ku tebak hal yang lain lagi.

Di atas roda empat yang melaju,
dengan benda melingkar di genggaman tanganmu,
wanita cantik di sampingmu akan berubah menjadi seorang sekretaris.
Kurang hebat apa kamu?
Seorang sopir, yang memiliki sekretaris pribadi.
Wanita itu akan mengambil ponselmu,
menceritakan bagaimana kamu lelah mengemudi,
atau mungkin, dia akan memuji dirinya sendiri.
Ya, mungkin.
Tapi, kalau tebakanku ini benar
Aku tak bisa menebak satu hal:
siapa yang menerima pesan singkatnya?

Sebaiknya, aku melanjutkan tebakanku saja.
Roda empatmu pasti mengarungi sircuit yang penuh liku, lubang, dan batu.
Berkilo-kilometer yang kamu tempuh itu sangat sempit, bukan?
Tapi aku yakin kamu memimpinnya dengan baik,
Mungkin kamu sangat lelah, setidaknya begitu yang pernah ku dengar, dulu.
Tapi aku tau, kalau saat ini kamu benar sedang melakukannya, hatimu pasti hangat.
Sebab aku tau, kamu selalu menikmatinya.
Sebuah kebersamaan bersama lengkungan-lengkungan senyum yang selalu kamu rindukan.

Sekarang kembali kepada kenyataan,
itu semua cuma tebakanku saja.
Tebakan.
Bisa jadi benar, bisa jadi salah.
Tapi ya mana ku tau, sekarang ini aku mampunya cuma menebak.
Menepati janjiku, menulis tentang kamu.

Kalau semua tebakanku tadi salah,
setidak-tidaknya aku ingin kamu menikmati waktu-waktu ini,
waktu-waktu yang kamu nantikan.
Menikmati kebersamaanmu bersama mereka,
orang-orang yang dengan setia selalu kamu rindukan.
Keluarga yang hangat.

Minggu, 21 Juli 2013

Boleh (?)

Ada perasaan besar yang kadang kala menyeruak
Menyibak setiap tirai tiara yang pernah bergelantung.

Rupanya masih ada saja detak yang berdentang mengalahkan detik,
yang lajunya mampu berpindah menjadi denyut di kepalaku.

Lalu aku berdoa..
dan ada namamu dalam setiap lipatan jemari kerinduanku.

Bolehkah demikian?

Bagaimanakah aku bisa mengatakannya
jika nyatanya jemariku merapat setiap hari dengan cara yang demikian.

Agar aku tegar.
Agar logikaku mampu mengalahkan perasaan.

Agar aku yakin:
Langkahmu pasti!

Juga agar supaya kamu tidak mengetahuinya.
Keyakinanku.

Agar kamu tidak membaca tulisan ini
sekalipun aku terlanjut menuliskannya.

Agar keyakinanku benar :
Langkahmu pasti!(?)

Rabu, 10 Juli 2013

Pekat yang Nikmat

Dalam dingin dan nyaring jam dinding,
Di hadapan segelas kopi yang air panasnya menantang air mataku

Aku bertanya :
Adakah kopi ini lebih hitam daripada kedukaanku?

Tapi tak setetes pun darinya mampu menjawabku,

Sebab barangkali mereka tak pernah mengenal arti hidup

Mereka hanya dituangkan ke dalam stoples kaca,

Menunggu giliran mereka untuk pergi,

Masuk ke dalam cangkir-cangkir cantik,

Kemudian melebur dan tenggelam dalam euforia kenikmatan yang bahkan tidak sempat mereka dengar ..

Dan sekalipun mereka adalah luak yang asli,
Mereka tidak akan pernah mampu menandingi pahitnya rasa kehilangan..

Barangkali mereka beruntung, sebab mereka tidak pernah mengenal keluarga, cinta, dan orangtua.. 
Sehingga tak perlulah bagi mereka untuk merasakan duka yang mendalam seperti yang sedang kurasakan..

Tak perlulah bagi mereka untuk menyendiri dalam balutan malam yang seakan siap menikamku kapanpun ia mau, seperti malam ini.

Angin malam pun seakan tertawa melihatku, dalam keterpurukan dan kepedihanku..
Seorang malang yang masih terbayang batu nisan ibu..
Seorang yang terlalu cepat meninggalkannya, ketika beliau musti hidup sebatangkara setelah ayah meninggal.

Dan aku?

Aku hanya bocah dengan segudang mimpi yang mengejar prestasiku jauh dari rumah, dan pada akhirnya berdialog dengan segelas kopi..

Gelas yang kacanya seolah cermin bagi diriku..

Pekatnya melukiskan kedukaan yang barangkali lebih gelap daripada langit malam ini ..

Dan butir-butirnya yang mengendap dibawah adalah aku ;

Yang masih saja tenggelam dalam kesedihanku..

Dan tunggu ..

Apakah itu?

Putih-putih semarak yang perlahan melunturkan kepekatan dalam gelas kopiku

“Kopinya lebih enak kalau dikasih susu. Biar ngga terlalu pahit.”

Beberapa sendok susu dari gelas teman asramaku sekarang sudah bercengkrama dengan butir-butir hitam di bawah sana.

Astaga! Bagaimana bisa aku mengurung diriku dalam lembah kesedihan ini - sedangkan ayah dan ibuku telah mengirimkan pasukan malaikatnya untuk menuntunku kembali berjalan dalam rute masa depanku?

Kawan yang menghiburku, yang pada akhirnya membentuk atmosfer yang lebih menenangkan. 

Seperti gelas kopiku, yang perlahan pekatnya menghilang dan berubah menjadi kecokelatan.

Sayembara Bukit Cinta


(Dimuat di Kompas, Minggu, 30 Juni 2013)

          Pada suatu pagi yang cerah Raja Kelinci berkeliling ke seluruh penjuru hutan untuk mengumumkan adanya sebuah sayembara. Sayembara ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat langka. Bagi mereka yang mampu memenangkan sayembara ini, mereka akan diangkat menjadi anggota kerajaan. Mereka akan mendapatkan kehidupan yang layak dan berhak untuk ikut tinggal di dalam istana. Mendengar adanya sayembara ini para rakyat Kerajaan Rimba tampak amat antusias. Mereka semua berkumpul di dekat mimbar tempat Raja Kelinci berbicara.
            Sayembara kali ini adalah Sayembara Bukit Cinta. Baginda Raja Kelinci meminta para pesertanya untuk mengambil buah apel berbentuk hati yang terdapat di atas Bukit Cinta. Tidak sembarang orang bisa memenangkan sayembara ini. Baginda Raja bilang hanya mereka yang hidup dalam kesederhanaan dan penuh cinta kasih saja yang dapat menuntaskan sayembara ini.
            Begitu banyak tenaga yang harus dikerahkan selama mengikuti sayembara Bukit Cinta. Beberapa dari peserta yang merasa tidak sanggup, akhirnya memutuskan untuk pulang. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti sayembara akhirnya hanya tersisa tiga ksatria saja. Mereka adalah Jery si jerapah, Kuri si kura-kura, dan Rosi si rusa. Ketiganya adalah rakyat kerajaan rimba yang hidup dalam kesederhanaan.
            Suatu malam di tengah perlombaan,  mereka bertiga memilih untuk tidur bersama di sebuah gubug di tengah hutan. Tidak banyak percakapan yang muncul diantara mereka. Barangkali mereka semua sudah terlalu lelah. Jadi, mereka lebih memilih untuk tidur.
            Pagi-pagi sekali Kuri si kura-kura sudah bangun. Karena dia tidak dapat berjalan dengan cepat, maka dia memilih untuk berjalan lebih awal. Untuk itulah dia bangun pagi-pagi buta. Sementara itu, Rosi rusa dan Jefry jerapah masih tertidur lelap.
            Beberapa jam kemudian, Rosi rusa mulai terbangun. Setelah mengetahui bahwa Kuri si kura-kura telah berangkat, maka Rosi rusa segera menyusul. Saat Rosi rusa kembali melanjutkan perjalanan menuju Bukit Cinta rupanya Jefry jerapah juga ikut terbangun. Tetapi Jefry jerapah berkata dalam hatinya, “Ahh, nanti saja. Toh kakiku panjang, tentu aku dapat berlari cepat dan menyusul mereka. Leherku yang panjang juga akan memudahkanku untuk memetik buah-buah apel hati itu.” Kemudian Jefry jerapah kembali melanjutkan tidurnya.
            Sementara Jefry jerapah sedang melanjutkan mimpi indahnya, di tempat lain Rosi si rusa telah berhasil menyusul Kuri si kura-kura. Kuri si kura-kura merasa pasrah ketika Rosi rusa mendahului langkahnya. Ia sadar bahwa berjalan lambat adalah kelemahannya, tetapi meskipun demikian Kuri si kura-kura tetap tidak putus asa. Kuri kura-kura tidak lantas menyerah. Ia terus melanjutkan perjalanannya.
Berada di posisi terdepan diantara kedua lawannya ternyata bukanlah hal yang mudah bagi Rosi si rusa. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan Bapak Beruang yang sedang membersihkan lumpur jalan. Bapak Beruang nampak amat kelelahan sebab ia mengerjakan pekerjaan itu sendirian. Akhirnya Rosi rusa memutuskan untuk ikut membantu Bapak Beruang membersihkan lumpur jalan. “Jika tidak dibersihkan, jalannya akan menjadi sangat licin dan sulit untuk dilewati.” kata Bapak Beruang pada Rosi rusa.
Setelah jalan kembali bersih dari lumpur, Rosi rusa kembali melanjutkan perjalanan. Ketika melewati sebuah jembatan, Rosi rusa melihat Nenek Kancil yang jatuh terpeleset di tepi sungai. Melihat hal tersebut hati Rosi rusa menjadi sangat iba. Ia kemudian memutuskan untuk turun ke tepi sungai dan membantu Nenek Kancil untuk bangkit berdiri. “Apakah nenek baik-baik saja?” tanya Rosi rusa pada Nenek Kancil. “Sepertinya kaki nenek terkilir. Apakah kamu bisa mengantar nenek pulang ke rumah?” kata Nenek Kancil. Rosi rusa mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia mengantar dan menggandeng Nenek Kancil sampai ke rumahnya. Setelah itu, barulah Rosi rusa kembali melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu Jefry jerapah sudah mulai bangun dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Jefry jerapah segera berlari dengan cepat menuju Bukit Cinta. Sedangkan Kuri si kura-kura telah melewati jembatan yang terletak tak jauh dari Bukit Cinta. Saat itu Kuri si kura-kura tidak tahu bahwa ia kembali berada di posisi terdepan karena Rosi rusa sedang membantu Nenek Kancil.
Di tengah perjalanan, Kuri si kura-kura bertemu dengan Ibu Burung. Saat itu Ibu Burung hendak mencari makan untuk bayi-bayinya. “Permisi tuan kura-kura, apakah anda bisa membantu saya menjaga bayi-bayi saya sebentar?” tanya Ibu Burung pada Kuri si kura-kura. “Maaf ibu, saya sedang buru-buru.” jawab Kuri si kura-kura sambil terus berjalan melewati Ibu burung dan bayi-bayinya. “Sebentar saja tuan, biar nanti Bapak Burung yang mengantar tuan sampai ke tujuan.” kata Ibu Burung lagi, tetapi Kuri si kura-kura tidak mau mendengarkan. Kuri si kura-kura terus berjalan.
Beberapa saat kemudian, Kuri si kura-kura telah tiba di puncak Bukit Cinta. Tetapi di sana ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Rosi rusa. Mengetahui bahwa ia yang pertama kali sampai di Bukit Cinta, Kuri si kura-kura merasa sangat gembira. Kemudian ia mulai mencoba untuk meraih buah-buah apel hati itu. Buah-buah apel hati itu terletak di atas pohon yang tinggi, sehingga Kuri si kura-kura merasa kesulitan untuk mengambilnya.
Ketika Kuri si kura-kura sedang berusaha mengambil buah apel hati, tiba-tiba datang Jefry si jerapah. Sesampainya Jefry jerapah di pucak Bukit Cinta, Jefry jerapah segera memetik buah apel hati itu. Karena memiliki leher yang panjang, maka sangatlah mudah bagi Jefry jerapah untuk memetik buah-buah apel hati itu. “Jefry, tolong petikkan satu buah apel itu untukku.” pinta Kuri si kura-kura. “Enak saja. Kalau kamu mau, kamu harus memetiknya sendiri.” jawab Jefry jerapah dengan angkuh. “Kalau begitu, tolong angkat aku dan bantu aku untuk memetiknya.” Kata Kuri kura-kura pada Jefry jerapah. “Tidak.” jawab Jefry jerapah. Kemudian Jefry jerapah segera bergegas pergi menuju ke istana tempat Raja Kelinci. “Aku yang akan menang.” batin Jefry jerapah senang.
Beberapa menit kemudian Rosi rusa tiba di puncak Bukit Cinta. Ia melihat Kuri si kura-kura sedang berusaha untuk memetik buah apel hati itu. “Kuri, apakah kamu butuh bantuan?” tanya Rosi rusa pada Kuri si kura-kura. “Tentu Rosi, tolong angkat aku dan bantu aku memetik buah apel hati ini.” kata Kuri si kura-kura. Rosi rusa kemudian mengangkat Kuri dan membantunya memetik buah apel hati itu. Setelah Kuri kura-kura berhasil memetik buah apel hatinya, barulah Rosi si rusa memetik buah apel hati untuk ia bawa kepada Raja Kelinci. Tak hanya itu, Rosi rusa juga menawarkan tumpangan bagi Kuri si kura-kura. “Kuri, tentu kamu lelah. Apakah kamu mau naik ke punggungku dan pergi bersama ke istana?” tawar Rosi rusa. “Terimakasih Rosi, kamu baik sekali.” jawab Kuri si kura-kura. Mereka berdua pun kembali menuju istana Raja Kelinci bersama-sama.
Sementara itu Raja Kelinci, seluruh anggota istana dan seluruh rakyat sudah berkumpul di halaman istana. Jefry jerapah juga telah menunggu kedatangan kedua lawan tandingnya. Ia sudah tidak sabar untuk dilantik dihadapan seluruh rakyat. Segera setelah Rosi rusa dan Kuri kura-kura tiba di istana, ketiga ksatria tersebut dipersilahkan untuk berdiri di atas panggung. Akhirnya Raja Kelinci memutuskan bahwa yang layak diangkat menjadi anggota kerajaan adalah Rosi si rusa. Gelar tersebut diberikan atas kesederhanaan dan cinta kasih yang besar yang dimiliki oleh Rosi rusa. Rosi rusa tidak pernah mementingkan dirinya sendiri, ia selalu berusaha untuk membantu orang lain. Maka dialah yang memenangkan Sayembara Bukit Cinta.

Di Sini Aku



Di sini aku sekarang.
Di titik yang paling awal.
Sebelum hitam menjadi manis,
Dan sebelum hitam adalah abu.
Bahkan sebelum aku mengenal hitam.

Barangkali aku telah menjelma menjadi suatu sosok yang baru.
Satu sosok yang terlalu asing dan angkuh bagimu,
Juga bagi diriku sendiri (mungkin).

Aku tak lagi takhluk pada bayang-bayang apa pun.
Bahkan tidak pada lukisan-lukisan cantik dalam relung jingga.

Aku tak lagi seperti dahulu.
Bukan gadis yang berlatih menari dalam siluet senja.
Sementara tariannya yang palsu cuma cuma meredam duka.
Selendang batinnya terjepit pilu.
Pada tiang-tiang pendhopo yang terlalu ringkih
dan terlalu klasik untuk kau jamah.

Aku bukan rekananmu, bukan wanitamu.
Bukan seonggok manusia yang menelan kepedihannya dalam balutan senyum semu.

Aku tak lagi selembut dahulu.
Bukan lagi wanita yang menemanimu tertidur
sambil membenahi letak leher kemejamu.
Kini aku sekeras kulit telur yang baru masak.
Sebab kamu tahu,
lembut dan rapuh bedanya hanya setinggi diameter rambut.

Aku meraba-raba dimensi kelam.
Dan aku tau aku harus berbalik ke titik yang paling awal.

Lalu aku mengais ngais air mataku.
Menjadi wanita yang keras, atau (mungkin) tegas?
Yang tamengnya lebih kuat dari baja.
Yang jika kau tusuk lagi dengan candrasa,
Sandingnya akan berbelok padamu
pada samudra batin yang paling cekak.

Lalu di sini pula aku berbicara.
Lupa pada luka yang ku simpan.
Kala syair syairmu menghanyutkan nusantara.
Saat bijakmu merengguh kathulistiwa.
Dan tepat saat aku tertusuk pisau hitam setajam bambu.
Sahabat yang meracikkanku setangkup roti,
Tapi diam-diam mencuri kenyangku.
Menjadikanku layu dengan abunya.

Malam yang indah.
Bila sekarang jemariku berdansa lincah di atas keyboard.
Hanya untuk berkata bahwa maaf itu tidak ada.
Sebab aku telah berdiri di titik awal lagi.
Kembali pada sebuah titik,
Tepat sebelum hitam menjadi manis.
Sebelum hitam menjadi abu.
Dan bahkan sebelum aku mengenal hitam.

Di sini aku sekarang.
Di titik yang paling awal.

Rabu, 05 Juni 2013

5cm Di Depan Mata


"Mimpi-mimpi kamu,
cita-cita kamu,
keyakinan kamu,
apa yang kamu mau kejar, 
biarkan ia menggantung, 
mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. 
Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu.
Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari,
kamu lihat setiap hari,
dan percaya bahwa KAMU BISA.
 
Apa pun hambatannya, 
bilang sama diri kamu sendiri, 
kalo kamu percaya sama keinginan itu 
dan kamu nggak bisa menyerah. 
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh,
bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat,
apapun itu, 
segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri..

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. 
 
Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma
kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas,
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,
serta mulut yang akan selalu berdoa.."

[5cm]
Donny Dhirgantoro