Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2013

Lilin-lilin Bersua

Jika sepuluh menit dapat merangkum satu tahun perjalanan hidup seseorang,
Maka tiga puluh menit ini adalah milikmu.
Kamu dan nyala apimu;
Terang dan hangat yang menerjang setiap terpaan angin dingin dan gelapnya malam.
Lelehan peluhmu,
tlah jadi rajutan perjuangan panjang yang kau retas tanpa batas.
Menghadapkanmu pada spektrum spektrum yang menuntunmu untuk menjamah rana;
Entah senyuman manis, entah kepalan tangan;
yang menantimu berdiri sebagai abdi bangsa;
punggawa keuangan negara.

Kini coba tengoklah sejenak.
Topangan kaki tempatmu berpijak ini,
sudah nyaris suntuk dan cukup renta
untuk bersua dengan air mata dan letihmu.
Lelehan ragamu sudah nyaris mendekati horizontal;
Tepat di malam ini, di delapan belas yang merekah dalam bulan Maria.

Lihatlah kami, kakak
Lilin lilin baru yang masih terlalu bersih.
Yang halus, yang mulus, yang baru keluar dari dalam kardus.
Yang utuh dan seolah kokoh,
Namun ditantang ragu untuk membawa terang.
Jangankan menyala kakak;
tentang cara tepat untuk dapat berpijak pun kami masih entah

Lihatlah kami, kakak.
Batangan-batangan putih yang bersua denganmu di malam ini,
di bawah cantik kerlip gemilang bintang,
yang membangunkan memori sekawan minggu yang lalu.
Gedung J307.
Saat lambaian tangan dan senyum manja
kita ciptakan bersama;
Apakah tak kau tangkap radar cemas dan ketakutan pada rona wajah kami?
Bagaimanakah kami harus membalas ucapan
"Selamat datang" dari bibir kalian,
dengan sebuah bisikan "Selamat jalan?"

Jika benar aku ini kakak;
Jika boleh aku bersusastra
dan jika mampu sepuluh menit mengibaratkan satu tahun perjuangan hidup seseorang.
Maka tiga puluh menit ke depan adalah milik kalian.
Pada tiga detik emas yang tersisa ini,
perkenankanlah aku menyalurkan nyala api Nya pada kalian.
Nyala api dan bisikan firman yang kalian kenal semenjak setetes air membelai dahi.

Bulir biluran pilu yang Ia tunjukkanlah,
yang akan kuberitahukan kepadamu;
Janganlah imanmu goyah.
Sebab Kristus sang batu penjuru telah menjadikan kerikil, debu dan rerumputan
sebagai awak-awak yang membentengi langkah-langkahmu.
Tak kan terantuk kaki kalian pada tanah.
Lelehan peluhmu akan jadi tonggak kebenaran,
Tumpukan keringat dan air matamu akan menjadi pijakan bagi ribuan orang.
Dari mulutmu akan terucap perkataan-perkataan yang benar.
Dan dari pundakmu disandarkan harapan-harapan orang nanar.

Detak detik ini,
Tuhan mempersatukan kita
Agar dapat kita berdiri dan berpijak bersama atas nama iman.
Biarlah angin, hujan dan malam menunjukkan
Bagaimana dingin dapat dikalahkan dengan kehangatan
dan bagaimana terang dapat mengalahkan kegelapan.

Untuk itu, tegapkanlah badanmu.
Pasanglah segala perisai Allah dan melangkahlah
dengan lengan kasih yang mampu merangkul semua senyuman.

Tentang lambaian tangan;
bukankah rotasi kita masih sama?


(Makrab KMK STAN, 18 Oktober 2013)

Rabu, 21 Agustus 2013

Dentang Debu

Berlarilah

Pasakkan tulangmu pada tanah,
pada siti molek berbalut gaun hijau

Dentangkan debu selantang gendhing jawi
ro lu ro lu mo lu ro ji 

Nyanyikan nafasmu semerdu derap matahari

Dadamu terbakar semangat Ilahi

Lepas bebaskan panas

Lari! Lari! Lari!

Jangan berhenti jika finish belum kau jamahi

Kibas lepas

Latih letihmu

Nyeri tak boleh jadi garis finish

Kalau yang kiri sakit,
Pinjam punya Brahmantyo

Putih yang tak kenal patah.

Kalau yang kanan yang sakit,
Pinjam punya Liem Dhany

Merah yang pantang pasrah.

Lari! Lari! Lari!

Kalau finish belum menjemput, jangan berhenti!

Teriakkan kakimu

Sembilan belas bersamamu

Rabu, 07 Agustus 2013

Sopir. Biar Ku Tebak

Biar ku tebak.
Saat ini mungkin kamu sedang menikmati aktivitasmu.
Rutinitas tahunan yang mungkin sangat kamu nantikan.
Ya. Bisa jadi!

Mungkin kamu sedang menghabiskan waktumu sebagai seorang sopir.
Setidaknya kamu selalu menyebut dirimu demikian, kan?

Menghantarkan rahimmu pergi berbelanja.
Membiarkan wanita-wanita yang kamu cintai memilih barang,
sementara kamu berdiri di depan AC supermarket.
Selalu di situ.
Kamu tak mau beranjak.
Jadi kalau sewaktu-waktu mereka datang, mereka akan dengan mudah menemukanmu.
Berdiri di satu titik, kamu bilang kamu bosan.
Tapi aku yakin, sebenarnya tidak.
Sebab aku tau.
Jauh di dalam hatimu, kamu sangat rindu berdiri di situ.
Bukan karena dinginnya suhu yang membekukan kakimu,
tapi karena hangatnya kebersamaan yang selalu kamu nantikan.
Betul begitu bukan?
Ehem. Ini tebakanku. Tapi bisa jadi, benar.
Bisa jadi memang begitu.

Setidak tidaknya jika tebakanku yang ini salah,
aku masih bisa menebak hal yang lain.

Setidak tidaknya, kalau aku jadi sopir sepertimu, aku pasti bahagia.
Sebab, aku adalah sopir yang bisa menikmati perburuan barang mereka.
Wanita-wanita cantik itu pasti dengan rela hati membiarkanmu menikmati hasil belanja mereka, kan?
Bukan. Bukan lipstik, dress, heels, dan semacamnya.
Tapi kamu pasti tau maksudku kan..
Kulkas.
Aku tidak tau kenapa, tapi rasa rasanya kamu tidak pernah jauh-jauh dari alat pendingin.
Mungkin supaya banyak orang terus memanggilmu "Mister Cool?"
Mungkin. Mungkin.
Setidaknya yang ku tau, kamu tidak mencari dinginnya.
Kamu menantikan kehangatan.
Bercengkerama dengan orang-orang kesayanganmu.
Memindahkan isi kulkas ke dalam perutmu.
Lalu nanti, ketika waktumu disana hampir berakhir,
kamu akan melakukan dua hal:
Satu, kamu akan bersikap sedikit melankolis.
Dua, kamu akan membanggakan perutmu yang melebar ke segala penjuru.
Dan mungkin juga, secara tidak sengaja, kamu akan mengkombinasikan keduanya hanya dalam sebuah pesan singkat.

Jadi bagaimana?
Apa tebakanku masih salah?
Biar ku tebak hal yang lain lagi.

Di atas roda empat yang melaju,
dengan benda melingkar di genggaman tanganmu,
wanita cantik di sampingmu akan berubah menjadi seorang sekretaris.
Kurang hebat apa kamu?
Seorang sopir, yang memiliki sekretaris pribadi.
Wanita itu akan mengambil ponselmu,
menceritakan bagaimana kamu lelah mengemudi,
atau mungkin, dia akan memuji dirinya sendiri.
Ya, mungkin.
Tapi, kalau tebakanku ini benar
Aku tak bisa menebak satu hal:
siapa yang menerima pesan singkatnya?

Sebaiknya, aku melanjutkan tebakanku saja.
Roda empatmu pasti mengarungi sircuit yang penuh liku, lubang, dan batu.
Berkilo-kilometer yang kamu tempuh itu sangat sempit, bukan?
Tapi aku yakin kamu memimpinnya dengan baik,
Mungkin kamu sangat lelah, setidaknya begitu yang pernah ku dengar, dulu.
Tapi aku tau, kalau saat ini kamu benar sedang melakukannya, hatimu pasti hangat.
Sebab aku tau, kamu selalu menikmatinya.
Sebuah kebersamaan bersama lengkungan-lengkungan senyum yang selalu kamu rindukan.

Sekarang kembali kepada kenyataan,
itu semua cuma tebakanku saja.
Tebakan.
Bisa jadi benar, bisa jadi salah.
Tapi ya mana ku tau, sekarang ini aku mampunya cuma menebak.
Menepati janjiku, menulis tentang kamu.

Kalau semua tebakanku tadi salah,
setidak-tidaknya aku ingin kamu menikmati waktu-waktu ini,
waktu-waktu yang kamu nantikan.
Menikmati kebersamaanmu bersama mereka,
orang-orang yang dengan setia selalu kamu rindukan.
Keluarga yang hangat.

Rabu, 10 Juli 2013

Pekat yang Nikmat

Dalam dingin dan nyaring jam dinding,
Di hadapan segelas kopi yang air panasnya menantang air mataku

Aku bertanya :
Adakah kopi ini lebih hitam daripada kedukaanku?

Tapi tak setetes pun darinya mampu menjawabku,

Sebab barangkali mereka tak pernah mengenal arti hidup

Mereka hanya dituangkan ke dalam stoples kaca,

Menunggu giliran mereka untuk pergi,

Masuk ke dalam cangkir-cangkir cantik,

Kemudian melebur dan tenggelam dalam euforia kenikmatan yang bahkan tidak sempat mereka dengar ..

Dan sekalipun mereka adalah luak yang asli,
Mereka tidak akan pernah mampu menandingi pahitnya rasa kehilangan..

Barangkali mereka beruntung, sebab mereka tidak pernah mengenal keluarga, cinta, dan orangtua.. 
Sehingga tak perlulah bagi mereka untuk merasakan duka yang mendalam seperti yang sedang kurasakan..

Tak perlulah bagi mereka untuk menyendiri dalam balutan malam yang seakan siap menikamku kapanpun ia mau, seperti malam ini.

Angin malam pun seakan tertawa melihatku, dalam keterpurukan dan kepedihanku..
Seorang malang yang masih terbayang batu nisan ibu..
Seorang yang terlalu cepat meninggalkannya, ketika beliau musti hidup sebatangkara setelah ayah meninggal.

Dan aku?

Aku hanya bocah dengan segudang mimpi yang mengejar prestasiku jauh dari rumah, dan pada akhirnya berdialog dengan segelas kopi..

Gelas yang kacanya seolah cermin bagi diriku..

Pekatnya melukiskan kedukaan yang barangkali lebih gelap daripada langit malam ini ..

Dan butir-butirnya yang mengendap dibawah adalah aku ;

Yang masih saja tenggelam dalam kesedihanku..

Dan tunggu ..

Apakah itu?

Putih-putih semarak yang perlahan melunturkan kepekatan dalam gelas kopiku

“Kopinya lebih enak kalau dikasih susu. Biar ngga terlalu pahit.”

Beberapa sendok susu dari gelas teman asramaku sekarang sudah bercengkrama dengan butir-butir hitam di bawah sana.

Astaga! Bagaimana bisa aku mengurung diriku dalam lembah kesedihan ini - sedangkan ayah dan ibuku telah mengirimkan pasukan malaikatnya untuk menuntunku kembali berjalan dalam rute masa depanku?

Kawan yang menghiburku, yang pada akhirnya membentuk atmosfer yang lebih menenangkan. 

Seperti gelas kopiku, yang perlahan pekatnya menghilang dan berubah menjadi kecokelatan.

Di Sini Aku



Di sini aku sekarang.
Di titik yang paling awal.
Sebelum hitam menjadi manis,
Dan sebelum hitam adalah abu.
Bahkan sebelum aku mengenal hitam.

Barangkali aku telah menjelma menjadi suatu sosok yang baru.
Satu sosok yang terlalu asing dan angkuh bagimu,
Juga bagi diriku sendiri (mungkin).

Aku tak lagi takhluk pada bayang-bayang apa pun.
Bahkan tidak pada lukisan-lukisan cantik dalam relung jingga.

Aku tak lagi seperti dahulu.
Bukan gadis yang berlatih menari dalam siluet senja.
Sementara tariannya yang palsu cuma cuma meredam duka.
Selendang batinnya terjepit pilu.
Pada tiang-tiang pendhopo yang terlalu ringkih
dan terlalu klasik untuk kau jamah.

Aku bukan rekananmu, bukan wanitamu.
Bukan seonggok manusia yang menelan kepedihannya dalam balutan senyum semu.

Aku tak lagi selembut dahulu.
Bukan lagi wanita yang menemanimu tertidur
sambil membenahi letak leher kemejamu.
Kini aku sekeras kulit telur yang baru masak.
Sebab kamu tahu,
lembut dan rapuh bedanya hanya setinggi diameter rambut.

Aku meraba-raba dimensi kelam.
Dan aku tau aku harus berbalik ke titik yang paling awal.

Lalu aku mengais ngais air mataku.
Menjadi wanita yang keras, atau (mungkin) tegas?
Yang tamengnya lebih kuat dari baja.
Yang jika kau tusuk lagi dengan candrasa,
Sandingnya akan berbelok padamu
pada samudra batin yang paling cekak.

Lalu di sini pula aku berbicara.
Lupa pada luka yang ku simpan.
Kala syair syairmu menghanyutkan nusantara.
Saat bijakmu merengguh kathulistiwa.
Dan tepat saat aku tertusuk pisau hitam setajam bambu.
Sahabat yang meracikkanku setangkup roti,
Tapi diam-diam mencuri kenyangku.
Menjadikanku layu dengan abunya.

Malam yang indah.
Bila sekarang jemariku berdansa lincah di atas keyboard.
Hanya untuk berkata bahwa maaf itu tidak ada.
Sebab aku telah berdiri di titik awal lagi.
Kembali pada sebuah titik,
Tepat sebelum hitam menjadi manis.
Sebelum hitam menjadi abu.
Dan bahkan sebelum aku mengenal hitam.

Di sini aku sekarang.
Di titik yang paling awal.

Sabtu, 25 Mei 2013

Cinta, Luka, dan Lupa

Dua terdekat semakin lenyap.
Yang hitam manis hanyalah jelmaan abu.
Semu.
Pundak yang tegar mulai keropos.
Yang biasa dipinjam mulai sirna.
Lengkungan bibir menjadi datar,
dan tanah di pipi mulai bermuara.

Cinta butuh luka sebelum jadi lupa.
Begitu pikir mereka.

Bodoh saja.
Kenapa pula harus ada luka untuk jadi lupa?
Toh luka dan lupa hanya beda satu huruf saja.
Tentu cinta jadi lupa itu akan lebih mudah jika tanpa melalui luka.

Cobalah.
Buang saja c, i, n, dan t 
Empat huruf yang sering mereka sebut pelengkap bahagia
Lalu ambil 'l', 'u', dan 'p' yang lebih sederhana
Sangat sederhana.
Kamu kan tidak perlu huruf k
Asal tahu saja k itu menyakitkan
Lihat saja "aku" dan "kamu" pernah sama-sama menyakiti kan?
Jelaslah. 
"kita" kan juga memelihara k

Ahh, siapa yang tak kenal dia?
Dia yang tak kenal cinta adalah dia yang tak kenal syukur.
Dia yang kenal luka adalah dia yang memenangkan syukur.
Dia yang mengenal lupa tak pernah mengenal cinta dan luka.
Dia lupa apa itu syukur.

Ada diantara kalian yang menangisi cinta, meratapi luka, dan melupakan syukur.
Kalian ini mengaku mengerti dimana jurang antara cinta dan luka itu tercipta.
Tapi kalian tidak pernah tahu bagaimana membuat jembatan diantara keduanya.
Kalian terlalu sibuk mengukur seberapa dalam dan curamnya jurang itu.
Jurang antara cinta dan luka, yang kalian sebut sebagai 'jurang pemisah antara engkau dan dia'.
Lalu pada akhirnya kalian ini malah memilih lupa.
Padahal lupa dan luka mengandung l, dan u dari kata sulit.
Hahh.. kalian ini.
Masih tak sadarkah kalian, bahwa cinta dan luka merupakan sepasang sinergi yang harus saling menyeimbangkan?

Minggu, 07 April 2013

Percaya itu Indah

 Kadangkala, hatimu terlalu keruh untuk membuat mulutmu mampu berbicara,
dan saat itulah telingamu memilihkan nada yang tepat untuk didengarkan.

Ada satu lagu yang pernah benar-benar mengena buat aku, bahkan mungkin tetap menginspirasi sampai hari ini.
Seingat aku, pertama kali tau lagu ini adalah waktu aku masih kelas X.
Ingat banget waktu itu, si Bela yang nyanyiin di unit MG.
Waktu itu kayaknya belum banyak yang tau lagu ini, search di google juga dikit banget result nya.

Lagu ini menceritakan seseorang yang begitu mendambakan sesuatu. Apapun itu, mimpi, cita-cita, harapan dan cinta. Ia belajar untuk selalu sabar dan percaya. Begitu yakin bahwa percaya menciptakan keindahan. Lagu ini menggambarkan betapa rapuhnya kita tanpa campur tangan Tuhan.


PERCAYA ITU INDAH



Tuhan ajar kami, untuk percaya,
Saat kami, ada dalam gelombang bimbang.
Ajar kami tuk percaya, juga saat kami hanyut,
Dalam rasa takut kehilangan.

Oh Tuhan ajar kami, tuk tetap percaya,
Juga saat, kami lemah dan tak berdaya.
Ketika cinta kami tersamar rasa cemburu,
Ragu sakit dan kecewa.

Sebab mencinta tanpa percaya,
Laksana berjalan tanpa tentu arah.
Buat cinta kami tumbuh karna percaya,
Karena percaya itu indah.

Tuhan ajar kami, untuk mencinta,
Ketika mencinta kami terluka.
Tuhan ajar kami, tuk tetap bisa mencinta,
Saat kami tlah habis tenaga.

Oh Tuhan ajar kami, tuk tetap bisa mencinta,
Saat kami ditolak dan ditinggalkan.
Ketika cinta kami, yang telah kami tawarkan,
Terasa sia-sia.

Sebab mencinta tanpa percaya,
Laksana berjalan tanpa tentu arah.
Buat cinta kami tumbuh karna percaya,
Karena percaya itu indah.



Seseorang yang punya hutang janji untuk menyanyikan lagu ini, malah mengingatkan aku tentang lagu indah ini. Barangkali ia mau membayar janjinya?

Minggu, 25 November 2012

Tiga Hal Untuk Mimpi Baru

Aku tak pernah membayangkan bagaimana seorang gadis harus terus bersedih dalam mimpi-mimpi yang sama yang seakan membelenggunya.
Dimana pada saat itu, tidak ada yang dapat menariknya keluar dari dimensi yang mengurungnya.
Satu-satunya makhluk yang mampu melakukannya, adalah dirinya sendiri.

Dan aku sebagai gadis itu, sedang belajar untuk membantu dirinya.

"Orang-orang berkata: jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, maka ia akan memahami semua orang. Tapi aku berkata: jika ada yang mencintai orang lain, maka ia akan dapat mempelajari sesuatu untuk dirinya sendiri." ~Kahlil Gibran

Beberapa malam yang berlalu itu, benar-benar memuakkan.
Dimana setiap kamu bermimpi, kamu masih menemui wajah-wajah itu.
Wajah-wajah yang kamu rindukan, yang dalam mimpi : akhirnya membuat jenuhmu makin pekat
Dimana pada akhirnya kamu merasa terpojokkan : tak ada makhluk baru untuk kamu rindukan
Dan pada latar-latar itu : tak ada tempat baru dimana kamu berpijak dan tertawa
Semua karena segala sesuatu dan rutinitas yang beralur dalam rotasi yang sama. 
Tak ada yang baru. Seolah tak istimewa.
"Setiap hari, sebenarnya kita sedang mengukir sejarah untuk diri kita sendiri." ~VRM

Dan sekarang aku tau:
Ketika dunia tidak tertarik untuk menyentuhmu, saat itu kamu harus tertarik untuk menyentuh dunia.

Aku mulai bangun dari mimpi-mimpi itu. Membantu gadis itu: 
mengisi kotak-kotak putih diantara hitam yang mengelilinginya dengan huruf-huruf balok;
merangkai beberapa aksara sederhana yang semoga mampu membuat anak-anak terlelap;
dan memperkenalkan makhluk rumput yang menghijaukan suasana.


Tiga hal : Memperbarui Mimpi Diri.




Rabu, 22 Agustus 2012

Tentang Menulis

Huamm ..

Hai hai hai.. FIY *for your information : AKU SUNTUK -_- Dan hal yang aku lakuin di tengah kesuntukanku adalah menulis ..
Sebenernya ngga ngerti juga mau nulis tentang apa.. (maklum yah, lagi suntuk) Jadi bagaimana kalau aku mulai dengan satu kata yang sedang kupikirkan : MENULIS :)


Untuk seorang bocah cilik, hal pertama yang perlu dipelajari dalam menulis adalah .. memegang pensil :D
Selanjutnya adalah mengarahkan goresan tangannya sambil menghafalkan bentuk huruf, yang menurut sang bocah, merupakan sebuah gambar.. ckck #curcol


Waktu aku kecil, menulis ' G - R - A - C -E ' adalah hal yang sangat sulit untukku. Sebagai seorang Grace kecil, aku ngga terima kalau namaku tuh tulisannya ribet dan ngga sesuai dengan pengucapannya..
Menurutku, harusnya tulisannya tuh ngga mengandung huruf ' C ' tapi mengandung huruf ' S ' !! Hahaha :p
Oo iya, awalnya bahkan aku ngga bisa mengucapkan namaku sendiri dengan benar : D
Lalu, ngga lama setelah aku mengerti dan mulai bisa menyebutkan namaku sendiri, aku mulai ngga terima kalau orang lain salah mengeja namaku.. haha

Okay, mari kembali lagi berbicara tentang menulis .. :D

Seiring berkembangnya pribadi seseorang, setiap individu akan menghayati arti menulis sesuai pandangan mereka masing-masing.. Menulis bisa jadi merupakan suatu lukisan perasaan, buah karya keisengan, hingga menjadi sebuah modal untuk mencari penghidupan. Seperti teman saya Clara Pranandita, dia bercita-cita ingin menjadi seorang penulis :)

Menulis dalam keadaan perasaan yang baik akan menjadi sangat menyenangkan, berbeda halnya dengan ketika seseorang melakukannya karena suatu keterpaksaan atau sejenisnya.

Saat kita menulis, sadar atau tidak, kadang kala perasaan kita (saat menulis) juga tertuang dalam setiap kata yang kita pilih.. Jadi ngga heran kalau sebagian penulis yang sukses adalah mereka yang menulis dengan menggunakan perasaan.
Hal semacam ini ngga cuma berlaku buat mereka yang suka nulis lho, tapi juga masyarakat pada umumnya..
Misalnya nih.. waktu kamu nulis sms.. hehe Aku saranin kamu mulai berhati-hati dalam memilih kata-kata yang kamu pakai waktu lagi sms-an :)

Buat aku sendiri, menulis adalah suatu ekspresi.. Salah satu bentuk kamu mengungkapkan sesuatu..
Aku ngga tau gimana yh, tapi lama kelamaan aku rasa ... aku suka nulis :)
Dulunya aku sok-sok ikutan nulis diary gitu.. rasanya geli sendiri kalau baca tulisan yang udah dari zaman kapan gitu.. hehe
Kata guru bahasa Indonesia ku dulu (waktu SMP) : dengan nulis kejadian yang kamu alami di buku harian (diary), kamu akan terbantu untuk mengingat hal-hal kecil yang pernah kamu alami.. Kamu jadi tau bagiamana kamu harus memperbaiki diri tanpa mengubah image kamu.. Trus buku diary itu juga sekaligus bisa menyimpan kenangan-kenangan pahit-manis yang pernah kamu alami..
Tapi aku juga jadi mencari sisi negatif nya.. Dan hal yang paling aku takutkan adalah ketika hal-hal yang menurut kamu "bersifat pribadi" itu dibaca atau terbaca oleh orang lain.. Huaaaa ngga mau banget deh -.-
Terus entah bagaimana, aku berhenti menulis diary.. :p

Selama beberapa waktu, aku sempat berhenti menulis.. Terus aku mulai ngga tahan, karena ngga bisa mengekspresikan perasaanku.. Jadi yang aku lakukan adalah : menulis puisi.. ckck
Aku bukannya mau sok puitis #sumpah.. Aku tuh cuma pengen membahasakan diri, tanpa orang lain bisa ngerti maksudnya :p ahaha Hebatnya, aku ingat peristiwa apa yang menginspirasi aku untuk menulis setiap rangkaian kata itu.. dan sebagian besar orang yang liat itu rada males baca karena ngga ngerti... Yeeeyyy :D
hehe..

Intinya, aku senang kalau tulisan ku itu ngga langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi cuma 'tersirat' aja :)

Hal selanjutnya yang aku dapat adalah tentang blogging :)

Buat aku ini benar-benar sarana yang tepat untuk berekspresi.. haha Gimana engga, aku bisa nulis sampai panjang lebar gitu.. hehe

Menurut majalah Gadis, kita bisa menulis apa aja yang kita mau.. Semakin banyak kita menulis, akhirnya kita akan menemukan jenis tulisan yang mencerminkan diri kita :)

Jadi, waktu aku bikin blog ini.. aku memutuskan untuk menulis apa aja yang sedang aku pikirkan..


Simple nya, selama aku masih bisa berpikir, 
aku ngga akan berhenti menulis :)

Kata temanku Hilaria Norma Wigati, ngga pernah ada yang salah dengan sebuah tulisan..  
Jadi, soal menulis itu .. aku rasa setiap orang berhak untuk menulis.. Dan jika boleh aku tambahkan, menulis adalah suatu kebebasan, asalkan menciptakan dunia yang positif, bukan sebaliknya :)

Salam hangat :)